6 Negara Pelajari Keberhasilan Stunting di Lombok Barat

Gerung, Kominfo. Kesuksesan penanganan stunting di Kabupaten Lombok Barat mendapatkan apresiasi dari delegasi World Bank (Bank Dunia) dari beberapa negara diantaranya Maroko, Kamboja dan Timor Leste. Karena itu Kamis (23/5/2019), delegasi Bank Dunia tersebut mengunjungi Lombok Barat yang didampingi perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Kedatangan delegasi dari enam ngara tersebut dimaksudkan untuk mempelajari proses penanganan stunting.

Sekretaris Daerah Lombok Barat, Ir. H. Moh. Taufiq, M.Sc dalam kata-kata penerimaannya bagi 17 orang delegasi tersebut memberi apresiasi mengapresiasi para delegasi yang memilih Kabupaten Lombok Barat sebagai tempat kajian mengenai stunting.

“Kabupaten Lombok Barat menjadi yang pertama secara progres mampu menurunkan angka kasus stunting secara signifikan,” kata Taufiq.
Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Barat,  Rachman Sahnan Putra, menyebutkan pemerintah pusat telah menetapkan Kabupaten Lombok Barat bersama tiga daerah lain di Indonesia sebagai daerah percontohan penanganan kasus stunting pada 2017.
Menurutnya, stunting adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya. Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia dua tahun.
Dikatakan, pemerintah pusat menilai program, terobosan dan komitmen dari para kepala daerah tersebut sangat baik dalam hal penanganan stunting.
Data yang ada pada Dinas Kesehatan Lombok Barat, kata Rachman, menunjukkan angka kasus stunting di Lombok Barat pada 2007 mencapai 49 persen. Dinas Kesehatan kemudian terus berinovasi menurunkan angka tersebut. Beberapa inovasi yang telah dilakukan, di antaranya sensus terhadap seluruh bayi di bawah lima tahun (balita) di Lombok Barat, inovasi Gerakan Masyarakat Sadar Gizi (Gemadazi), Gerakan Masyarakat 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dan upaya penguatan sistem melalui e-Puskesmas, e-Pustu, e-Poskesdes dan e-Posyandu.
“Dengan dukungan bupati serta keterlibatan lintas sektor, angka kasus stunting dapat turun menjadi 32 persen pada 2016. Data terakhir menunjukkan, pada Februari 2019,  angka kasus stunting di Lombok Barat dapat ditekan menjadi 25,04 persen,” ujar Rachman.
Rachman menilai, angka tersebut kini di bawah rata-rata nasional. Pemkab Lombok Barat melalui Dinas Kesehatan menargetkan mampu menurunkan angka stunting menjadi 15 persen pada 2020 sehingga target Lombok Barat Bebas Stunting pada 2024 dapat tercapai.
Rachman berharap, dalam upaya penurunan stunting, agar koordinasi lintas program dan lintas sektor semakin kuat dan efektif sehingga percepatan penurunan angka stunting di Lombok Barat semakin cepat. Hanya satu-satunya cara, yaitu dengan menitik pusatkan seluruh program di Kabupaten Lombok Barat dengan kuat.

Selama di Lombok Barat, 17 delegasi dari 6 negara tersebut akan mengunjungi beberapa desa untuk melihat langsung aktivitas para tenaga kesehatan yang nantinya akan diterapkan di negara mereka. (Humas Protokol Lombok Barat)

print