bilibli Mekaki Marathon 2018 Bukti Recovery Kebangkitan Pariwisata Lombok Pasca Gempa

Sekotong-KIM. Gili Nanggu, Gili Gede, Gili Layar, Gili Sudak, Gili Kedis adalah bagian yang bisa disebut dari ratusan gili yang ada di wilayah Sekotong, Lombok Barat. Destinasi wisata laut yang kerap kali disebut dalam setiap kegiatan traveling para travelers ini merupakan destinasi paforit wisata Lombok Barat yang tengah naik kelas. Keindahan dan keelokan wisatanya telah menarik perhatian banyak orang untuk mengunjungi wilayah yang lokasinya 40 km arah selatan ibukota Kabupaten Lombok Barat Giri Menang, Gerung.

Arus kunjungan wisatawan yang ingin menjelajahi kawasan ini berangsur-angsur meningkat pasca gempabumi yang terjadi beberapa bulan lalu. Terjadinya gempa yang melanda Pulau Lombok dan Sumbawa tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap minat para wisatawan untuk menikmati rekreasi keindahan alam laut di wilayah Sekotong.

Masifnya pemberitaan dan promosi yang terus gencar dilakukan oleh pemangku kepentingan dan para pelaku pariwisata lainnya akan pulihnya pariwisata Lombok pasca gempa setidaknya telah memberikan daya ungkit bagi normalisasi pariwisata Lombok.

Gelar blibli Mekaki Marathon 2018 pada 28 Oktober 2018 lalu di kawasan Teluk Mekaki dengan menghadirkan 1500-an pelari nasional, pelari lokal, para artis, pejabat pusat, provinsi, kabupaten bahkan para wisatawan yang turut ambil bagian dalam event yang sudah dua kali digelar ini telah menjadi trauma healing dan memberi cukup bukti bahwa pariwisata Lombok benar-benar sudah bangkit.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Barat, H. Ispan Junaidi bersama jajaran dan steakhholder terkait akan tetap melakukan upaya promosi melalui penjualan paket wisata dengan tetap membranding wisata halal sebagai predikat Lombok dan NTB. “Andil grup promosi dari Bali, Jogjakarta, Bandung, juga telah banyak membantu kita dalam meraih arus kunjungan wisatawan,” jelas Ispan di Teluk Mekaki, Sekotong Minggu (28/10) lalu.

Ispan menambahkan, berbagai upaya akan terus dilakukan apalagi perhatian pemerintah daerah di bantu pemerintah pusat dalam mengembalikan iklim pariwisata seperti sebelum gempa melanda tetap dilakukan.

“Namun saya akui lemahnya penataan destinasi wisata sangat mempengaruhi promosi apalagi sejumlah destinasi wisata terdampak cukup parah akibat gempa. Seperti wilayah Senggigi namun sudah mulai di tata kembali. Untuk kawasan wisata Senggigi, setelah bak kota mati, kawasan yang menjadi ikon pariwisata NTB dan Lombok pada khususnya itu sudah mulai berbenah,” tuturnya.

Ispan juga membenarkan pihak Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB juga tetap intens dan terus-menerus berkoordinasi dengan Pemda Lombok Barat dalam recovery kawasan Senggigi. “Alhamdulillah semua berangsur pulih. Pemangku kebijakan dan stake holder harus bisa di ajak bekerjasama agar perekonomian serta pemulihan berjalan baik. Terima kasih juga temen-temen pers yang selama ini telah berkontribusi besar dalam recovery ini,” ujarnya.

Dalam catatan BPPD NTB hampir setiap minggu ada grup (Fam Trip) yang datang ke Lombok. Tamu yang datang sebagian besar dari Bali. Gerakan Ayo Ke Lombok menjadi senjata utama pemulihan pariwisata NTB. Percepatan recovery pariwisata NTB, selain mempromosikan secara konvensional seperti mengikuti pameran, travel mart dan table top juga memanfaatkan teknologi melalui pemanfaatan video streaming serta sosial media yang melibatkan beberapa figur terkenal untuk mempromosikan Lombok serta mensosialisasikan kondisi Lombok yang sudah aman di kunjungi.

“Kekuatan pariwisata ada pada romosi dan sinergisitas insan pers, pelaku pariwisata, pemerintah dan masyarakat,” kata Ispan. (Hernawardi/Sadri/KIM Sekotong Bersatu)

print