Dalam Protokol Kesehatan, Ada Makna Ibadah

 Mataram, Diskominfotik –  Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB) mulai membuka Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Centre NTB, Kota Mataram, Jum’at, (5/6/2020).

Pembukaan ini seiring dengan pelonggaran kebijakan karantina di masa pandemi Covid-19. Ibadah dilakukan dengan tetap menerapkan protokol Covid-19. Lantai masjid sudah dipasangi penanda jarak antara jamaah dengan jarak satu meter.

Sebelum mulai membuka kembali masjid, Pemrov NTB menetapkan sejumlah aturan bagi jamaah yang hendak salat berjemaah di masjid.

“Dengan ketentuan salat di masjid itu tertuang dalam surat edaran Kementerian Agama Nomor : SE. 15/2020,” kata Pengurus Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Centre NTB. Aturan pembukaan masjid ini berlaku di seluruh wilayah Pemprov NTB.

Berikut aturan salat berjamaah di Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Centre NTB:

  • Physical distancing
    Setiap orang yang salat berjemaah di masjid harus menjaga jarak satu meter dan membuat satu baris atau ruang kosong di antara setiap deretan.
  • Menjaga kebersihan
    Jemaah salat harus memakai masker, membawa sajadah sendiri, dan berwudu dari rumah.
  • Dilarang berkerumun
    Pengurus masjid harus memastikan jamaah menghindari kerumunan saat masuk dan keluar masjid.
  • Durasi khotbah
    Khotbah tidak boleh lebih dari 15 menit.
  • Mencuci tangan sebelum memasuki areal masjid.
  • Sebelum memasuki areal masjid, petugas akan mengecek suhu tubuh
  • Jamaah dengan suhu maksimum 37°Celcius.
  • Memasuki areal masjid dengan tertib.
  • Membawa kantong plastik untuk tempat sandal dan sepatu masing-masing.
  • Tidak ada salaman.

 

Dalam khotbah yang disampaikan oleh TGB. Muhammad Zainul Majdi, dengan penuh kesyukuran kita kembali dapat mengikuti syiar islam yang utama yaitu melaksanakan Salat Jumat di Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Centre yang kita cintai ini.

Setelah cukup lama pelaksanaan Salat Jumat kita fakum, karena memang ada kedaruratan, alhamdulillah, kesyukuran yang tetap diiringi dengan kesadaran penuh bahwa kita masih dalam keadaan yang tidak biasa, masih berada pada situasi yang tidak normal karena itu saya mengingatkan pada kita semua beberapa hal, yakni memperkuat hubungan kita dengan Allah SWT, terus mengokohkan dalam diri kita optimisme.

Dalam keadaan seperti ini mari kita amalkan bahwa orang-orang yang beriman itu terikat dengan aturan-aturan yang kita sepakati dalam artean, dalam kehidupan sosial kita ada panduan-panduan dari pemerintah itu mengikat kita, wajib untuk kita laksanakan, kecuali sesuatu yang mengharamkan yang halal atau meghalalkan yang haram.

Selama panduan dari pemerintah itu untuk keselamatan, kebaikan, dan menjaga ketertiban sosial kita maka wajib untuk kita taati. Jadi jangan kita maknakan protokol kesehatan seperti contoh menggunakan masker ketika kita keluar rumah, dengan hanya sekedar hanya menunaikan kewajiban kita sebagai warga negara, Tidak….!!!”.

“Di dalam protokol kesehatan itu ada makna ibadah. terus atau tidaknya kita melaksanakan syiar di masjid ini tergantung dari keistikomahan dan kesabaran kita, maka dari itu mari kita sabar untuk beberapa waktu dengan mengikuti panduan-panduan dari pemerintah,” ujarnya.

Lillahitaala dengan menjalankan perintah Allah SWT ini ibadah kita untuk saat-saat pandemi ini dengan tetap menunaikan protokol kesehatan Covid-19 itu merupakan ibadah kita yang utama. Semoga NTB terhindar dari segala wabah dan bala, dan semoga Allah mengangakat wabah ini dari NTB khususnya, dan tetap istigfar. Diskominfotik/Juan/Yani

 

print