Disabilitas di NTB Dilatih Vokasional

Labuapi, Kominfo – Lombok sebagai daerah pariwisata yang sedang berkembang tentu saja mempunyai banyak peluang, khususnya peluang usaha. Namun permasalahan sampah tentu juga menjadi masalah seperti halnya kota-kota lain sekaligus menjadi tantangan dalam lajunya pembangunan. Disisi lain permasalahan sosial seperti pengangguran unskill menjadi pelengkap tantangan yang harus ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah bersama stakeholders nya.

Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Pengandang Disabilitas (BBRVPD) Kemensos RI bekerjasama dengan Dinas Sosial Prov. NTB dan Yayasan Kumala Jakarta, melaksanakan kegiatan pelatihan usaha kertas daur ulang di Bengkel Lobar, Rabu (11/9/2019).

Pelatihan ini dilaksanakan dari tanggal 11 september sampai dengan 14 september 2019 dengan tujuan untuk mendorong lahirnya wirausaha mandiri di berbagai bidang usaha, dengan target sasaran 50 Penyandang Disabilitas dari berbagai daerah di NTB.

Abah Dindin, Ditektur Eksekutif Yayasan Kumala Jakarta mengatakan “Saya melihat peluang yg sangat besar apabila para peserta dapat membentuk kelompok-kelompok usaha daur ulang. Ketersediaan bahan baku organik yang melimpah yang selama ini menjadi sampah seperti pelepah pisang, eceng gondok, kertas bekas, alang-alang, jerami dll dapat menjadi olahan produk yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Banyaknya hotel-hotel, tempat pariwisata dan turis menjadi peluang pasar yg sangat besar. “Terangnya”

Kegiatan usaha daur ulang yg dilakukan oleh para penyandang disabilitas akan berdampak besar dalam mengatasi masalah sosial dan masalah lingkungan di NTB. Yayasan Kumala akan sangat bersedia untuk membantu pendampingan terhadap kelompok2 usaha tersebut nantinya, “Tambahnya”.

Sementara itu, Lalu Wisnu Pradipta Direktur Lombok Disability Center dan juga sebagai ketua Koordinator Endri’s Foundation berharap agar hal mengenai kegiatan kemandirian teman-teman difabel terus ditingkatkan, sehingga tidak seperti jalan ditempat. Sehingga menindak lanjuti hasil dari pelatihan ini kedepan dapat dibentuk dalam kelompok-kelompok unit usaha difabel di daerah masing-masing.

Wisnu menuturkan bahwa pihaknya dari Lombok Disability Center akan membentuk 3 komunitas kerja pengolahan limbah. Kelompok tersebut akan menyebar di Lombok Timur, Lombok Utara dan Lombok Barat, sementara di Lombok Tengah akan membentuk unit usaha sanitasi yaitu produk closet, “Ucapnya”. (L.Angge)

print