Gamak, Cara Lombok Barat Tekan Pernkikahan Usia Dini (2)

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AK2B) Kabupaten Lombok Barat (Lobar) Ramdan  Hariyanto menyatakan,  Strategi lain yang dilakukan, yakni menggelar “Gawe Bajang Bercerite”. Kegiatan tersebut dilakukan DP3AK2B Kabupaten Lobar, bekerja sama dengan Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) NTB.

Dalam kegiatan tersebut, diberikan ruang seluas-luasnya kepada remaja dan kelompok remaja yang merupakan “agen perubahan” di desa untuk saling bertukar pengalaman, informasi serta pengetahauan mereka kepada sesama teman remaja, orang dewasa dan pemerintah.

Kegiatan tersebut juga mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, baik penggiat perlindungan anak seperti aliansi Yes I Do, tokoh agama, tokoh masyarakat, komunitas remaja, organisasi wanita dan lainnya.

Erni Suryana, Kabid P4 DP3AK2B Lobar menambahkan, Gamak yang diinisiasi Pemda Lombok Barat digaungkan menjadi program unggulan inovasi. Gamak dirasakan mampu merubah paradigma lama yang membiarkan anak-anak menikah saat belum cukup umur.

Kabid Pengendalian Penduduk Penyuluhan dan Penggerakan pada DP3AK2B Lobar Erni  Suryana menambahkan, pernikahan anak usia dini di Lobar menjadi akar masalah kesehatan khususnya kesehatan ibu dan anak. Pernikahan yang berlanjut pada kehamilan di usia yang tidak aman berakibat meningkatnya resiko terjadinya komplikasi pada kehamilan dan persalinan yang berujung pada kematian ibu dan bayi.

Kehamilan di usia yang tidak aman juga menyebabkan resiko keguguran, bayi lahir prematur dan lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).  BBLR merupakan penyebab langsung kematian neonatal yang paling sering terjadi.

Mengatasi persoalan nikah pada usia dini/anak di Lobar dengan segala dampak sosial kemasyarakatan dan kesehatan tidaklah mudah terutama untuk mengurangi angka pernikahan dini yang terus berlanjut. Karena itu itu diperlukan gerakan bersama serta dukungan semua pihak untuk mengatasi persoalan ini.

Erni panggilan akrab pejabat eselon III ini menilai,  alasan menikah meski usia dini untuk menghindari fitnah, sebenarnyamerupakan alasan yang digunakan sebagi  pembanaran atas keputusan menikah di usia anak.

Dari hasil penelitian yg di lakukan oleh Universitas Indonesia (UI) di 2 Kecamatan di  Lobar bahwa 41 % sudah dari pernikahan pada usian anak itu sudah terjadi kehamilan yang tidak diinginkan, “Artinya bahwa anak-anak kita sebelum memutuskan untuk menikah mereka sudah melakukan sex bebas,” kata Erni.

Erni memberi solusi untuk mencegah hal ini yakni dengan memberikan mereka pendidikan kesehatan reproduksi melalui kegiatan Posyandu Remaja dan dialog warga. Selain itu pula dilakukan pendidikan keterampilan sesuai dengan potensi yang ada di desa masing-masing.

Dikatakan Program Gamak ini sendiri di mulai sejak 2016, termasuk program aliansi “Yes I Do”. Evaluasipun sudah dilakukan sejak dua tahun dari 2017 dan 2018. Dari angka 56% jumlah perempuan yg pertama kali menikah di usia < 20 tahun 2017 turun menjadi 23 persen tahun 2018.

Terkait data perceraian yang khusus pada pernikahan di usia anak, Erni mengaku belum mmiliki data. Namun tahun tahun 2019 akan direncanakan untuk mengumpulkan data perceraian setiap bulan.

“Dan kami akan fokus pada perceraian di perkawinan usia anak. Namun fakta di lapangan yang kami temukan bahwa kasus perceraian yg terjadi pada perkawinan usia anak cukup tinggi dan ini akan berdampak kepada pengasuhan anak jika mereka sudah memiliki anak dari perkawinan tersebut,” jelas Erni.

Kecuali itu, lanjut Erni, anak-anak yang menikah secara otomatis akan putus sekolah dan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan akan sulit karena mereka hanya memiliki ijazah SD, maksimal SMP.

Data lainnya yang diperoleh pada DP3AK2B Lobar menyebutkan, jumlah perempuan menikah di bawah usia 20 tahun paling tinggi terjadi di Kecamatan Sekotong 181 kasus, 125 kasus di Kecamatan Lingsar, 122 kasus di Kecamatan Gerung. Jumlah laki-laki menikah di usia kurang dari 20 tahun juga tertinggi di Kecamatan Sekotong sebanyak 70 kasuis, Narmada 60 kasus, Kecamatan Gunungsari 43 kasus.

Berdasarkan data DP3AK2B Lobar menunjukkan tahun 2017 di Lombok Barat kasus pernikahan di usia anak (< 20 tahun) pada perempuan sebanyak 1.038 kasus dan laki-laki 357 kasus.

Gamak ini diharapkan bisa menjadi jawaban dari permasalahan ini. Grerakan ini mencakup tiga hal penting yaitu upaya penceghahan (prevention), deteksi dini (detection) dan cepat tanggap (response) terhadap kondisi yang menjadi akar permasalahan kesehatan masyarakat secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Selain itu juga keberhasilan menekan angka pernikahan anak usia dini juga tidak terlepas dari upaya masif yang dilakukan Kantor DP3AK2B Kabupaten Lombok Barat yang secara terus menerus memberikan sosialisasi keada masyarakat hingga ke pelosok dusun/kampung disertai peran penyuluhan dan pendampingan yang dilakukan oleh para kadet penyuluh KB se Lombok Barat. Demikian juga sosialisasi intensif dilakukan di sekolah-sekolah baik negeri dan swasta ataupun di Pondok-Pondok pesantren se Lombok Barat. Para Kader penyuluh KB juga banyak berperan dalam menurunkan angka pernikahan anak usia dini ini. (her-bersambung).

print