Gamak, Cara Lombok Barat Tekan Pernkikahan Usia Dini (3)

Direktur Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) NTB yang juga kader Bajang Becerita Ahmad Hidayat menyatakan, program Yes I Do ini merupakan program dilaksanakan dari tahun 2016-2020. Tujuannya  ingin menciptakan kesejahteraan bagi anak perempuan khususnya dengan mengakhiri anak dan mencegah pernikahan usia remaja.

“Jadi kita mendorong di wilayah Lobar ini dengan inisiatif sendiri dengan mobilisasi sendiri. Kita juga berupaya agar akses informasi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi bisa dipermudah bagi anak khususnya bagi remaja termasuk cara mendapatkan layanan kesehatan,” kata Ahmad Hidayat.

Menurut Ahmad Hidayat, pihaknhya juga juga bekerjasama dengan pemberi layanan kesehatan dan pihaknya  juga mendorong agar partisipasu orang muda tidak dimaknai sebagai sasaran program saja, namun benar-benar melakukan upaya nyata mulai dari perencanaan.

“Orang muda itu jangan hanya menjadi sasaran tapi juga mereka harus menjadi subyek dan pelaku dari perubahan itu sendiri. Jangan menikah usia anak, besok kawin kalau sudah berumur 20 tahun,” ujarnya.

Adanya Gawe Bajang Becerita kata Ahmad Hidayat, diinginkan agar semua aksi-aksi dan upaya yang dilakukan orang muda harus diapresiasi dalam rangka mengapresiasi gerakan orang muda untuk  mengakhiri perkawinan anak.

“Kita juga ingin mengakpresiasi sinergi dari berbagai sektor yg ada di Lobar untuk mengakhiri perkawinan anak. Yang mana salah stau hasilnya itu selama tahun 2017 dan 2018 kita berhasil menurunkan setengah dari perkawinan anak usia dini dari periode sebelumnya,” kata Ahmad Hidayat.

Sementara itu Ketua Masyarakat Adat Sasak Wali Pair Lombok Barat HL. Anggawa Nuraksi menyatakan, bahwa adat sasak mengatur usia perkawinan seseorang. Perkawinan dalam adat Sasak bisa dilangsungkan bila orangnya sudah dewasa.

Dewasa dimaksud, kata budayawan Lombok ini yakni dewasa secara biologis artinya bagi perempuan sudah menstruasi. Dewasa secara mental artinya waras tidak dalam gangguan jiwa dan dewasa secara sosial artinya sjudah memahami statusnya dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Menurut Anggawa, perkawinan dini pada suku sasak umumnya terjadi karena tiga hal. Diantaranya keterpaksaan (melanggar susila), di bawah umur (Undang Undang) dan kawin gantung (alasan tertentu).  “Jadi perkawinan dini (Merariq Kodek) tidak dibenarkan dalam budaya sasak. Dalam kitab-kitab lontar sdasak juga mengajarkan bahwa perkawinan dini dapat dilakukan apabila dalam keadaan gterpaksa atau darurat seperti hamil di luar nikah dan adaya alasan-alasan tertentu,” ujarnya.

Dikatakan Anggawa, dari kitab-kitab kuno Sasak yang dimiliki sebagai warisan adiluhung orang Sasak bisa diambil suatu pembelajaran bahwa sebaiknya perkawinan itu dilakukan pada usia 20 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Mengingat usia tersebut bagi laki-laki atau perempuan dianggap sudah bisa mandiri, sudah bekerja dan sudah berpenghasilan.

Anggawa menegaskan, menikah usia dini bukan tradisi Sasak. Itu adalah perilaku orang Sasak yang tidak pernah mempelajari adat/budayaSasak, jadi bukan bagian dari budaya. “Ini perlu kita luruskan. Jangan sampai terkesa seolah-olah orang menilai kawin dini itu adalah budaya Sasak, tidak,” ujarnya.

Menurutnya, budaya dalam Sasak itu adalah cipta, karsa orang Sasak dalam rangka mengamalkan /mengaplikasikan norma-norma Ketuhanan yang diterima melalui tradisi dan agama. Jika  bertentangan dengan agama itu jelas bukan budaya Sasak.

Kaitannya dengan kehidupan hidup berumah tangga di adat budaya Sasak arahnya lebih mempertegas ajaran agama. Sebagai contoh cerai dalam agama itu walaupun dibnolehkan, tapi dibenci Alloh SWT. Tapi kalau dalam budaya Sasak bencinya bukan sekali tapi dua kali lipat bencinya. Sehingga perceraian dalam budaya sasak itu tidak diatur, karena adat Sasak tidak menyukai  terjadinya perceraian itu.

Anggawa menambahkan, dalam adat Sasak tidak dibenarkan anaknya kawin secepatnya dengan berbagai alasan seperti ekonomi, takut jadi perawan tua dan sebagainya. Tapi itu hanya perilaku saja. Hak untuk kawin itu adalah otoritas yang ada pada anak. Orangtua harus membimbing anak-anaknya itu untuk kawin dengan orang yang baik-baik.

Adat Sasak jelas melarang perkawinan usia dini. Karenalebih banyak mudaratnya dari manfaatnya. Seperti dari sisi kesiapan mental untuk berkeluarga, dari sisi biologis dan sebagainya. Kalau adat Sasak sebenarnya kalau melanggar aturan atau awiq-awiq di Dusun atau Desa diberikan sanksi tegas termasuk soal perkawinan. “Seharusnya Pemda dalam hal ini bisa mempasilitasi pembuatan awiq-awiq mulai dari dusun,” sarannya.

Anggawa menyimpulkan, perkawinan dini atau Merariq Kodek dalam budaya Sasak tidak dibenarkan. Disarankan perkawinan dilakukan sebaiknya pada usia 20 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki. Dan hal ini sejalan dengan UU No 1 tahun 1974 tentang perkawinan.

“Untuk menghindari Merariq Kodek pwerlu dibuatkan awiq-awiq (aturan/larangan) hingga tingkat Dusun. Dan untuk tegaknya awiq-awiq ini perlu dibentuk peradilan Adat,” ujarnya. (Her)

print