Hujan,  Perajin Bata di Dusun Beroro Hentikan Produksi

Lembar- KIM . Hujan yang turun di Lombok Barat secara terus-menerus membuat para perajin bata merah di Dusun Beroro, Desa Jembatan kembar Timur, Keca matan Lembar, Lombok Barat untuk sementara waktu menghentikan produksinya. Pasalnya lokasi tempat mereka buat bata terendam banjir.

Marsait (42) salah seorang perajin bata merah di dusun tersebut mengungkapkan, untuk sementara waktu ia tidak bisa memproduksi bata karena hujan, dan lokasi tempat pembuatan bata tergenang air.

“Yang bisa  saya lakukan saat ini membakar sisa pembuatan batu bata saat musim panas lalu. Takut kalau ada banjir yang lebih besar lagi,” kata Marsaid kepada KIM Minggu (237/1).

Di temui di lokasi tempat pembuatan batu bata Marsait tengah sibuk  menyusun batu bata hasil batu bata buatanya agar benar benar terbakar maksimal. Lokasi gudang tempat pembakarannya seluas kurang lebih 6 x 8 meter yang beratapkan asbes, kondisi gudang yang sudah mau ambruk di akibatkan hujan angin kemaren, dan berada sekitar 1 Meter dari air yang tergenang membanjiri lokasi tempat ia buat bata.

Marsait menambahkan, musim hujan disertai angin  kencang ini dikhawatirkan akan lebih besar dari tahun sebelumnya. Karenanya, Marsaid segera membakar batu bata yang masih mentah tersebut. “Proses pembakarannya paling satu hari satu malam. Proses penyelesaian pembakaran batu bata tergantung kayu nya kering apa basah kalu kering kayu ya sampai satu hari satu malem. Kalu kayu nya basah proses pembakaran lumayan lama karna cuaca lumayan dingin. Kami bakar batu bata pake kayu. Kalu sudah matang, maka batu bata tersebut akan aman meski di terjang banjir sekalipun. Berbeda ketika masih mentah belum di bakar, maka akan mudah larut gugur apabila terkena air,” ujarnya.

Marsait bekerja membuat bata bersama istrinya. Saat musim panas Marsait dan istrinya mampu membuat batu bata sampai 1500 buah batu bata per hari. Marsaid menjualnya di tempat lokasi seharga Rp. 400 ribu per 1000 buah di musim panas.

“Kalau sekarang di musim hujan harga bata naik sekitar harga Rp.500 ribu per 1000 buah bata di lokasi. Dikarenakan produksi bata sulit dan orang yang produksi bata jarang di karenakan lokasi pembuatanya rata-rata tergenang air,” kata Marsaid.

Untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari hari selama musim Hujan ini, Marsaid menerima kerja serabutan seperti menabuh benih padi.

“Kami kerjakan kalu ndak ada ya apa boleh buat diam di rumah. Pasalnya keterampilan yang kami bisa cuman buat bata aja dak ada yang lain. Ya kami menjadi buruh tani sehari hari kalau begini. Paling istri saya yang jadi buruh tanam benih padi disawah,” kata Sumariadi. (Sumariyadi/KIM Lembar Bersaing).

print