Inovasi Gerakan Pohon Pengantin Ala Dasan Tapen

IMG-20170120-WA0005Gerung, KIM-Adanya berbagai perubahan kondisi dan kualitas lingkungan tentunya akan bisa berpengaruh buruk terhadap manusia. Beragam bentuk kerusakan lingkungan, seperti pencemaran udara, pencemaran air, dan menurunnya kualitas lingkungan akibat bencana alam, banjir, longsor, kebakaran hutan, dan krisis air bersih. Hal ini lama kelamaan akan dapat berdampak global pada lingkungan pada umumnya, khususnya bagi kesehatan masyarakat sendiri. Hal ini hendaklah menjadi perhatian khusus bagi pemerintah dalam menata kembali wilayah Indonesia dari segala bentuk berbagai kerusakan lingkungan, disamping menciptakan dan membangun budaya masyarakat dalam berwawasan lingkungan.

Persoalan tersebut sangat diperhatikan oleh Pemerintah Kabupaten Lombok Barat yang telah sukses dengan program lingkungan hidupnya; one million tress. Sukses tersebut ditindak lanjuti sampai level bawah, yakni Pemerintah Desa Dasan Tapen Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat.

Pemerintah Desa ini punya cara unik sendiri untuk menciptakan dan membangun budaya tersebut. Salah satunya adalah dengan meluncurkan Inovasi “Wedding Tress” atau Gerakan Pohon Pengantin.
Inovasi tersebut adalah upaya untuk menciptakan lingkungan yang hijau dan asri, khususnya di lingkungan Desa Dasan Tapen dan Wilayah Kabupaten Lombok Barat Umumnya.

Kepala Desa Dasan Tapen; Alman Faluti, S.Adm mengungkapkan, sejarah adanya pohon pengantin di Desa Dasan Tapen; “Bahwa program Pohon Pengantin ini merupakan program Pemerintah Kabupaten Lombok Barat”, ujarnya

Program pelestarian lingkungan melalui pohon pengantin ini dinilai berhasil dan menjadi percontohan bagi Kabupaten- kabupaten yang ada di Indonesia sehingga pada tahun 2011 di mana Kabupaten Lombok Barat mendapatkan penghargaan di Acara Pekan Nasional (Penas) 2011 di Kalimantan Timur.

Akan tetapi lanjut Alman, melihat implementasi di lapangan itu masih terputus, maka diangkatlah program pohon pengantin itu di Desa Dasan Tapen. Pohon Pengantin (Wedding Tress) dilakukan dengan konsisten bagi setiap pasangan suami istri yang baru menikah.

Program yang mulai dicetuskan tahun 2014 lalu ini diperkuat dengan Peraturan Desa (Perdes) yang menyebutkan bahwa Calon Pasangan Suami Istri (pasutri) yang akan menikah wajib menanam pohon. Perdes Pohon Pengantin ini awalnya dilakukan dengan disosialisasikan, sebab pola pendekatan dilakukan langsung ke masyarakat, dalam hal ini calon pasangan suami istri (pasutri).

Program ini disampaikan pada setiap kesempatan, seperti hajatan masyarakat, acara tasyakuran, dan kegiatan desa lainnya. “Respons masyarakat terhadap program inipun sangat bagus. Sehingga setelah disosialisasikan selama satu tahun, baru pihak desa menetapkan program ini dalam bentuk Perdes di tahun 2015”, jelasnya.

Dijelaskan, dalam Perdes ini ditekankan kewajiban bagi calon pasangan suami istri di desa itu untuk menanam pohon. “Jika kewajiban ini tidak dilaksanakan, maka calon pasutri tersebut tidak diberi rekomendasi surat-surat terkait pernikahan. Setelah menikah, Pasutri ini tidak saja menanam namun harus merawat sampai tumbuh.

Nantinya ketika mereka memiliki anak, paling tidak satu tahun, maka orang tua mempunyai kewajiban untuk menanam satu pohon lagi sebagai tanda kelahiran anaknya yang kita sebut pohon persalinan. Dengan adanya Perdes ini jelasnya, Pasutri tidak berani melanggar dan mau tidak mau mereka akan tetap menanam pohon”, demikian Alman menjelaskan.

Dengan asumsi dalam satu tahun persitiwa pernikahan dan kelahiran, desa yang memiliki penduduk kurang lebih 5000 jiwa dan memiliki 7 dusun ini, mampu menanam antara 100 sampai 200 pohon. Ini adalah gabungan dari pohon pengantin dan pohon kelahiaran.

“Perkiraan kita dari tahun 2014 sampai tahun 2016 ini sekitar 300 sampai 400 pohon yang sudah tertanam. Dan asumsi kita 5 sampai 6 tahun ke depan Desa Dasan Tapen menjadi desa hijau dengan banyaknya penanaman” Alman memaparkan.

Terkait dengan ketersedian bibit, desa sudah menyiapkan bibit untuk pasangan pengantin. Desa mendapatkan bibit pohon dari Dinas Kehutanan Kabupaten Lombok Barat mengajukan proposal dengan kebutuhan bibit satu tahun bisa tercukupi. Selain itu, Desa juga mendapatkan bibit dari mahasiswa mahasiswi yang sedang Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Dasan Tapen di mana persyaratan utamanya adalah ikut mendukung program pohon pengantin dengan cara satu orang mahasiswa berkewajiban untuk menyumbang bibit sebanyak 20 bibit dan satu angkatan itu ada sekitar 20 sampai 30 mahasiswa.

Jenis pohon yang ditanam adalah pohon mahoni, pohon sengon dan pohon sejenis lainnya. Lokasi penanaman yang menjadi fokus utama adalah jalur utama yang melintasi Desa Dasan Tapen dan di pinggir-pinggir saluran utamanya irigasi yang ada di wilayah desa Dasan Tapen. Sedangkan pola evaluasi dari program ini adalah meminta bantuan Kepala Dusun dan Ketua RT untuk tetap mengawal kegiatan ini sehingga pada setiap ada moment atau kegiatan pertemuan rutin diadakan diskusi evaluasi kendala dan hambatan dari program ini sendiri.(Fathurrahman-KIM Gerbang)

print