Kebiasaan Pola Tanam Petani Perlu Dirubah

Gerung – KIM. Menggeser perilaku usaha tani bagi para petani di wilayah Lombok khususnya Lombok Barat agaklah sulit. Pola tanam padi, palwija padi dan seterusnya terasa berat untuk rubah. Hal ini sebenarnya lebih disebabkan, kebiasaan petani yang selalu memilih pola tanam yang praktis dimana ketersediaan air masih cukup, petani masih kegandrungan menanam padi.

Sapoan (60) , salah seorang petani dari Dasan Ketujur, Desa Mesanggok, Kecamatan Gerung kepada KIM di Dasan Ketujur, Rabu (29/3) mengungkapkan, secara umum para petani di wilayahnya terus berlanjut menanam padi. Sekalipun anjuran dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) tetap mengingatkan para petani untuk bisa menanam komoditi pertanian secara selang-seling. “Jadi tak terbatas pada hanya satu tanaman saja. Jadi harus giliran,” ujar Sapoan mengikuti arahan PPL setempat.

Kebiasaan para petani yang menerapkan pola tanam seperti itu, justru berseberangan dengan H. Sapoan. Petani yang sebelumnya sebagai petani penggarap ini malah menerapan pola tanam sebagaimana yang dianjurkn PPL. “Habis padi biasanya saja palawija atau jagung. Karena tanah pertanian di sini cocok dikembangkan jagung ditambah sayur-mayur dan hasilnya bagus. Karena kalau nanam satu jenis saja malah tanahnya cepat rusak,” ujarnya.

Sapoan juga dalam menggunakan pupuk diakuinya tak harus menggunakan pupuk pestisida, pupuk kimia ataupun pupk yang lebih praktis. Namun ampas hasil panen seperti jerami digunakannya sebagai pupuk organik yang diolah bersama tanah saat membajak. “Sudah beberapa tahun ini kami terapkan dan ternyata hasilnya tidak kalah dengan pupuk instan yang banyak dijual di toko-toko obat pertanian,” terangnya. Selamat R – KIM Lintas Desa Gerung

print