Mantan Buruh Migran Pelatihan Keterampilan

Batulayar – KIM. Pelatihan Pembuatan Kripik Pisang, Singkong dan Sukun, 28 Agustus 2017 bertempat di Dusun Teloke Desa Batulayar Kecamatan Batulayar Lombok Barat. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Forum Relawan Kecamatan Gunungsari-Batulayar (FRGB). Muhamad Maulud, H. Agus Saminto, dan Makiah menjadi Narasumber Pelatihan. Peserta pelatihan terdiri dari mantan buruh migrant, ibu rumah tangga yang datang dari Kecamatan Batulayar dan Gunungsari.
Maulud selaku Ketua forum saat menyampaikan sambutan mengatakan bahwa tujuan dari pelatihan ini adalah agar peserta memiliki keterampilan pada akhirnya bisa menjadi perempuan berdaya. Agar mereka (terutama buruh migrant) memiliki keterampilan, jika sudah terampil, masalah ekonomi bisa teratasi, tidak perlu ke luar negeri mencari nafkah, selama ini salah satu factor yang menyebabkan banyaknya tenaga kerja adalah karena masalah ekonomi. Jika program ini dapat berjalan, kita tidak hanya mengaharapkan bantuan pemerintah, demikian cerita ketua forum.
Sementara H. Agus Saminto yang menjadi Pemateri Inti banyak mengulas masalah bagaimana membuat atau memproduksi kripik dengan kualitas baik dan banyak peminat. Agus merupakan pengusaha Kripik yang berasal dari Dusun Gegutu Kecamatan Gunungsari. Pertama narasumber Agus memperkenalkan alat-alat produksi, bagaimana menggunakan, teknik, hingga marketing.
Sembari memperkenalkan alat seperti Wajan, Kompor, Sendok Penggoreng, Agus juga mengulas bagaimana memilih bahan yang baik termasuk di dalamnya masalah bumbu. Semakin bagus bahan dasar yang dipilih, kualitas produksi juga akan semakin baik pula, terang Pengusaha Kripik ini.
Untuk diketahui, pelatihan ini merupakan tindaklanjut dari adanya Forum Relawan Kecamatan Gunungsari-Batulayar untuk memberdayakan perempuan-perempuan yang keluar negeri dengan alas an menjadi TKI maupun TKW. Di samping, membantu pemerintah dalam hal perluasan lapangan pekerjaan. Dengan demikian program End Violence Againts Women and Children (Akhiri Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak), End Human Trafficking (Akhiri Perdagangan Manusia), dan End Barriers To Economic Justice (Akhiri Kesenjangan Ekonomi). Tiga istilah ini merupakan bagian dari program Kementrian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia yang digalakkan. KIM Layar Stone/Muhtar Juaini.
print