Memotret Perajin Bata Merah di Embung Kolah  

Lembar KIM- Senin,(10/9) Musim Panas membuat susah para petani saat ini, pasalnya air galian sumur disawah mulai surut. Tanah sawah mulai retak, karena kekurangan air daun daun pohon mulai berguguran, rumputpun sebagian daunya sudah menguning.

Tapi sebaliknya para Pengrajin batu-bata di Dusun Embung Kolah Grepek Desa Labuan Tereng Kecamatan Lembar membawa berkah. Pasalnya Keuntungan yang diraup hingga mencapai 65% sebab dalam kondisi musim panas proses pembuatan bata  lebih cepat dan pengeringan juga cepat .

Perajin batu bata Zuryati asal Dusun Embung Kolah kecamatan Lembar menyatakan, proses pembuatan batu bata merah pada musim panas mulai dari membuat adonan, mencetak bata,menyusun bata di bawah terik matahari. Selanjutnya setelah bata kering di susun didalam gudang hingga proses pembakaran bata merah membutuhkan waktu sekitar  satu sampai dua bulan sebab proses pengeringan hanya butuh waktu satu dua hari. “Sedangkan untuk pembakaran bata merah butuh waktu seminggu lamanya itupun tergantung banyak sedikitnya bata merah yang di bakar,” kata Zuryati kepada KIM, Senin (10/9/2018).

Perajin batu bata merah lainnya H. Hamdi (40) juga mentarakan, dirinya a sudah hampir 40 tahunan  menggeluti usaha bata merah. Dalam proses pembuatan batu bata seharinya perajin bisa membuat bata merah hingga 1000 biji lebih.

Menurutnya, dalam pembakaran bata merah sekali bakar antara empat puluh ribu sampai lima puluh ribu biji bata merah. Sedangkan modal yang di gunakan untuk proses pembuatan bata merah di luar tenaga yakni untuk membeli kayu bakar. “Kita butuhkan kayu bakar itu kalu meteran kayunya 100 meter.  Harga per meter nya berpariasi tergantung besar kayu bakarnya,” jelasnya.

Ditambahkan, harga bata merah per 1000 biji mencapai Rp. 370.000 ambil di lokasi. Sedangkan jika terima di lokasi bangunan pemesan harganya Rp. 550.000, sjudah termasuk ongkos kirim, upah tenaga buruh dan lainnya.

Selain itu KIM juga mendapatkan informasi bahwa jika musim penghujan para petani bata merah di Dusun Embung Kolah beralih profesi sebagaian bercocok tanam di sawah dan para pengrajin bata yg tidak punya sawah ada yang bekerja sebagi penanam padi di sawah dan  lahan pembuatan bata di tanami pohon pisang dan ubi. Karna tidak bisa untuk buat bata pada musim hujan dan proses pengeringanya lumayan lama dan ini dijadikan kesempatan untuk mereka menyimpan bata di dalam gudang.

Pada musim kemarau ada sekitar 65% KK yang berpropesi sebagai pembuat bata yang aktif setiap hari di Dusun Embung Kolah ini “Kami menerima pembelian bagi orang orang yang membutuhkan bahan bangunan khususnya bata merah” ungkap H.Hamdi. (Kardin/KIM Lingsar Beraksi)

print