Merawat Kebersamaan Melalui Tradisi Begawe

Narmada KIM – Keramaian di setiap acara Begawe memang menjadi ciri khas acara adat Suku Sasak, karena semua warga masyarakat yang terkumpul dalam kelompok banjar semua hadir tanpa terkecuali, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.

Begawe merupakan bahasa yang biasa digunakan masyarakat sasak pada umumnya, ketika salah satu dari warga  melakukan syukuran atas pernikahan atau untuk merayakan acara lainnya. Seperti halnya masyarakat Dusun Kebon Belek Desa Mekar Sari yang senantiasa melangsungkan acara tersebut.

Pada hari minggu tanggal 19 Februari 2017, Idham Khalid warga Dusun Kebon Belek Desa Mekar Sari Kecamatan Narmada, merayakan syukuran atas pernikahan anaknya Roni Hartawan, dimana dalam acara tersebut sangat besar, terlihat dari persiapannya jauh-jauh hari sebelum hari H tiba, semua kebutuhan untuk begawe sudah disiapkan mulai dari terop yang sudah terpasang diarea seputaran rumah tetangga sampai hewan sapi yang akan disembelih untuk dijadikan lauk saat acara.

Merupakan acara dan upacara warga yang paling ditunggu-tunggu karena perayaan ini memantik keramaian semua warga,  warga berkumpul rumah epen gawe (yang mempunyai gawe) untuk membantu segala macam keperluan, mulai dari menyambut tamu, sampai menyuguhkan jamuan para tamu yang secara berangsur datang, rasa kegembiraan dan keceriaan terpancar dari warga banjar yang secara riang mengangkat jamuan-jamuan untuk tamu.

Berbagai tahapan acara sudah di lalui ketika hari begawe tiba, mulai dari ngebat dimana berkumpulnya warga yang tergambung dalam Banjar melakukan persiapan pembuatan makanan tradisional  Ebatan, pembuatan sayur ares yang berbahan dasar batang pohon pisang, sayur nangka, daging sampai pada pembuatan rujak bebek yang biasa disuguhkan untuk sarapan warga banjar yang membantu. Semuanya diracik dengan bumbu rempah yang sudah disiapkan satu hari sebelumnya oleh Ran (juru masak).

Ngebat adalah mencincang bahan-bahan ebatan seperti pisang, nangka dan bahan lainnya,  pembuat ebatan yang beralaskan  pada talenan (alas terbuat dari kayu) sehingga terpotong kecil-kecil.

Bahu membahu dalam perayaan begawe seperti ini sudah menjadi keniscayaan, menurut anggapan warga sudah menjadi kewajiban membantu warga yang mempunyai hajat begawe.

Jika salah satu saja warga dari kelompok tidak hadir tanpa ada alasan yang jelas, maka akan menjadi buah bibir warga dan  jika dikemudian hari dia menggelar acara serupa  yaitu begawe maka warga juga tidak akan mau hadir dalam perayaan acaranya.

Substansi dari acara begawe adalah memohon doa yang terbaik untuk kedua mempelai, “Besar kecilnya acara begawe sama saja intinya, hanya meminta doa untuk kedua pengantin” cetus Amaq Wirane pemban adat Dusun Kebon Belek sesaat sebelum acara roah dimulai.

Secara tidak langsung bahwa begawe bukan hanya sekedar syukuran belaka, namun terlebih dari itu adalah suatu momen dimana kebersamaan itu selalu terjaga. Tidak bisa dibayangkan, andai saja tidak ada kekompakan dari warga untuk membantu epen gawe dalam melangsungkan syukurannya maka bisa dipastikan tiga hari tiga malam pun tidak akan bisa diselesaikan oleh yang memiliki gawe. Rasa peduli warga dan kebersamaan yang  patut untuk diapresiasi.

Keramaian dalam acara begawe sudah semestinya terjadi, memanfaatkan suasana keramaian tersebut  tak ketinggalan para pedagang kaki lima untuk mengais nafkah dari momen begawe, terlihat banyak sekali pedangang yang menjajakan dagangannya mulai dari pakaian murah, jajanan anak-anak, mainan anak-anak sampai penjual bakso.

Kemudian nyongkolan menajadi acara puncak dari perayaan begawe tersebut, dimana kedua mempelai diantar oleh semua warga dan diiringi dengan gamelan musik tradisional masyarakat sasak menuju orang tua pengantin perempuan. Substansi dari nyongkolan tersebut adalah bersilaturrahim pihak pengantin laki-laki kepada keluarga pengantin perempuan. (Mustar KIM Mekar Sari)

print