Pagelaran Wayang Kulit Hibur Warga Mekar Sari Semalam Suntuk

Kim Narmada – Rabu malam 22/03/2017 menjadi malam yang menggembirakan bagi warga Desa Mekar Sari Kecamatan Narmada karena dihibur dengan group wayang kulit Karang Sidemen pimpinan Bapak Mah.

Pertunjukkan wayang kulit ini dilangsungkan di halaman rumah Renah tepatnya di Dusun Tempit Desa Mekar Sari, dimana seminggu yang lalu Renah sudah merayakan syukuran atas  pernikahan anaknya (begawe).

Pagelaran wayang kulit ini dilangsungkan dalam rangka Namengan (syukuran seminggu setelah begawe), biasanya Namengan ini digelar tepat pada hari dimana dilangsungkan begawe. Misalnya begawe pada hari minggu maka minggu depannya baru digelar Namengan.

Pertunjukkan dimulai jam 22.00 wita sampai jam 03.00 pagi,mula-mula para penonton berjubal memenuhi halaman rumah yang cukup luas dan keramaian warga yang menyaksikan sampai memenuhi ruas jalan sehingga lalu lintas kendaraan yang melewati jalur tersebut cukup tersendat.

Sekitar pukul 11.30 para penonton mulai beranjak sepi hanya tinggal orang-orang sepuh yang mengenali betul kisah pewayangan, kemudian penggila berat wayang inipun bertahan sampai pertujukan selesai.

Seperti biasa dalam kisah pewayangan selalu diselengi dengan gonjakan (season berkelakar dengan bahasa keseharian masyarakat sasak). Di dalam season gonjakan ini dalang tidak luput memainkan tokoh-tokoh fenomenal dalam dunia pewayangan sasak, seperti Amaq Baok, Amaq Amet, Amaq Ocong dan Amaq Kese’.

Tak jarang para penonton memegang perut ketika ketawa, seperti Ramli dan Imah yang duduk paling depan, demikian itu menandakan mereka sakit perut melihat dan mendengar kelakar Amaq Baoq dan kawan kawan.

Ketika muncul Jayeng Rane, Umar Maye dan tokoh Pewayangan lainnya para penonton pun serius memperhatikan karena tokoh ini merupakan substansi mengetahui alur kisah, biasa disebut Kelampan atau kisah dalam bahasa wayang.

Sesekali terdengar teriakan dengan nada keras ketika dalang mengetengahkan kisah perang diantara Alam Daur dengan Umar Maye.

“Bunuh dia Imar Maye” teriak Amaq Sumi seorang penggila kisah Pewayangan asal Dusun kebon belek.

Para Penggila wayang terhipnotis dengan dalang kondang ini yang mempertontonkan kisah-kisah kerajaan zaman dahulu yang tentunya hal ini menjadi refrensi bagi kalangan pencinta sejarah masa lampau. (Mustar KIM Mekar Sari).

print