Perlunya Mediasi Dalam Pemulihan Paska Bencana

Gunungsari, Kominfo-Puluhan peserta dari Kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur, Lombok Utara dan Kota Mataram mengikuti pelatihan mediasi yang bertema “Berbasis kearifan lokal dalam upaya pemulihan paska gempa” yang digelar Majelis Adat Sasak (MAS) di Gunungsari, Sabtu ( 26/10).

Pembicara dihadirkan saat itu, diantaranya, Dr. Saiful Hamdi, MA Direktur Budaya dan Masyarakat Islam Unram dan Munzirin, SH dari organisasi Gerakan Revitalisasi Kemanusian (Gravitasi) Mataram.

Ketua Harian MAS  Drs. Lalu. Bayu Windia, M.Si  menjelaskan,  tujuan dilakasanakan kegiatan ini yaitu memediasi terhadap potensi konflik yang mungkin atau bahkan seringkali terjadi, terutama pada keadaan kebencanaan terjadi.

Miq Bayu panggilan akrabnya menambahkan, adapun kriteria mediator tentu orang yang memiliki trust di desa kemudian dikenal tidak memihak, netral dan jernih tidak emosional. Kemudian direkrut dan dibekali ilmu ilmu bagaimana melaksanakan mediasi. Oleh karena itu Majelis Adat Sasak (MAS) dalam hal ini  menggandeng Bale Mediasi NTB.

Menurut Miq Bayu, Majelis Adat Sasak mencoba melihat sesuatu dari angel  yang berbeda, sehingga nanti melalui pelatihan ini diharapkan  dapat mencetak kandidat agen agen mediator ditengah masyarakat dan diharapkan dapat memberi solusi atas berbagai persoalan yang terjadi ditingkat desa.

Ketua Bale Mediasi NTB H. Lalu. Mariyun, SH. Mengungkapkan gambaran tentang keberadaan bale mediasi NTB, dimana bale mediasi memiliki dasar hokum dan merupakan yang pertama tingkat nasional. Didirikannya Bale Mediasi ini sesuai dengan Peraturan Mahkamah Agung no. 1 tahun 2019, Perda provinsi No. 9 tahun 2019 dan Perbup ditiap tiap kabupaten/kota.

Bale mediasi ini ada ditiap tiap kabupaten/kota, tingkat kecamatan, dan kelurahan/desa,” kata mantan Ketua Pengadilan Tinggi NTB ini.

Lalu Mariyun juga menjelaskan, Bale Mediasi berwenang untuk mendampingi pihak bersengketa diluar pengadilan. Kewenangannya menyelesaikan perkara perkara perdata dan menyelasaikan perkara perkara pidana yang dilihat secara kualifikasi ancamannya tidak lebih dari 3 bulan.

Mediator di bale mediasi dikenal dengan mediator komunitas yang terdiri dari kepala desa atau lurah yang didampingi oleh tokoh agama, tokoh masyarakat, termasuk juga Babinkamtibmas dan Bimaspol.

Pelatihan ini dilaksanakan selama 2 hari pada tanggal 26-27 oktober 2019 yang bertempat di Bandini Reverside Cottage kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat.

Turut hadir dalam acara pelatihan ini, Kapolda NTB yang diwakili Kompol. I Wayan Arnaya, Bupati Lobar yang diwakili kepala bagian pemerintahan H. Hamka S.Sos dan perwakilan Aksi Tanggap Cepat (ACT) Nusa Tenggara Barat dan seluruh peserta perwakilan dari berbagai wilayah sepulau Lombok. (Angge).

 

print