PKL Makam Batulayar Berharap Pemerintah Berikan Izin Melintas Pengguna Jalan Yang Taat Potokol Kesehatan Saat Lebaran Ketupat

Batulayar, KIM Layar Stone – Sepinya kawasan Makam Batulayar yang menjadi salah satu situs yang biasanya dijadikan lokasi puncak perayaan tradisi Lebaran Topat di Kabupaten Lombok Barat (Lobar). Turut berdampak bagi para Pedagang Kaki Lima (PKL)  yang sudah lama berjualan di kawasan tersebut.

Dengan tegasnya surat edaran pelarangan Pemerintah Daerah (Pemda) dalam tradisi Perayaan Lebaran Topat yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Lobar bahkan pulau Lombok . Termasuk salah satunya berziarah ke Makam Batulayar hingga plesiran di Pantai Duduk, Kecamtan Batulayar.

Bahkan pada H-1 Perayaan Lebaran Topat, saat berkunjung ke salah satu makam yang dikeramatkan di Lobar ini, situasinya sangat sepi.

“Gara-gara COVID-19 ini, sudah dua tahun tiap Perayaan Lebaran Topat dan Lebaran Idul Fitri makam ndak pernah dibuka” kata Rohani, seorang PKL yang berjualan di depan pintu makam kramat Batulayar, Rabu (19/05/2021).

Ia menuturkan bahwa keluarganya sudah berjualan selama belasan tahun. Namun semenjak pandemi COVID-19 ini, keuntungan mereka bahkan tidak sampai 50 persen. Bahkan dengan adanya penyekatan yang menyebabkan wisatawan dilarang memasuki kawasan itu.

Kata dia, untuk hari ini saja hanya ada beberapa orang yang merupakan warga asli Batulayar sendiri yang berziarah ke makam tersebut. Sehingga ia pun tetap semangat berjualan kembang untuk  pengunjung yang akan berziarah ke makam karamat Batulayar.

“Kalau sekarang keuntungan jualan sekarang itu tidak sampai 50 persen. Ndak kayak dulu lumayan” tuturnya.

Padahal sebelumnya, momentum Lebaran topat biasanya dimanfaatkan untuk mendapat keuntungan yang besar. Bahkan perharinya, Rohani menuturkan, ia bisa mendapatkan keuntungan hingga Rp2 Juta hingga Rp3 Juta. Namun, dalam kondisi saat ini, dirinya mengaku kesulitan untuk bisa memperoleh keuntungan walau hanya Rp500 ribu.

“Tapi sekarang Rp500 ribu, kalau dapat segitu” ungkapnya dengan nada lirih.

Saat ini, yang menjadi harapan bagi para pedagang yang ada di kawasan itu, termasuk Rohani, hanyalah para pengendara yang merupakan masyarakat asli Batulayar yang kebetulan melintas di jalur menuju kawasan wisata Senggigi.

“Yang beli cuma orang yang lewat aja, orang-orang Batulayar sini saja,” keluhnya.

“Kalau dibilang sedih, ya sedih.  Kita jualan untuk cari makan walau untung kecil saat ini. Kita hanya berharap supaya pemerintah bisa memberikan kelonggaran untuk diberikan izin pada masyarakat luar asalkan pakai protokol kesehatan lengkap, Supaya kita tidak tambah rugi,” harap Rohani. KIM Layar Stone/DN/YL

print