Takut Gempa, Masyarakat Lingsar Sholat Jumat di Lapangan

Lingsar-KIM. Gempa berkekuatan 7,0 Scala Richter yang mengguncang Lombok, Minggu malam (5/8) lalu masih menyisakan trauma berkepanjangan bagi masyarakat terdampak gempa, khususnya di bagi masyarakat Lombok Barat. Belum lagi disusul gempa berikutnya yang terjadi Kamis, (9/8) siang sekitar pukul 12.35 Wita dengan kekuatan 6,2 SC makin menambah traumatik secara psikologis masyarakat.
Khusus aktivitas peribadatan warga khususnya kaum muslim yang melaksanakan ibadah sholat Jumat sebagian besar tidak dilakukan di Masjid. Khawatirnya jamaah sholat Jumat masih tidak khususk menjalankan ibadah, karena sewaktu-waktu gempa susulan akan terjadi, mengingat gempa tidak bisa diprediksi terjadinya.
Sebagaimana yang terpantau KIM di Kecamatan Lingsar, Jumat (10/8), sebagian besar masyarakat menjalankan sholat Jumat di lapangan atau tempat terbuka untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Di Desa Lingsar misalnya masyarakat setempat berbondong-bondong melaksanakan sholat Jumat di Lapangan Sepak ola Lingsar yang terletak tidak jauh dari Jalan Utama Lingsar. Jamaah yang melaksanakan sholat Jumat di lokasi ini cukup banyak karena merupakan jamaah yang berasal dari Masjid Qomarul Huda di Dusun Lingsar Barat dan Masjid Samsul Huda di Lingsar Timur.
Di Desa Lingsar sendiri menurut penjelasan Mukmin, warga setempat terbagi menjadi 4 Dusun. Diantaranya Dusun Lingsar Barat, Lingsar Tengah, Lingsar Timur dan Dusun Lingsar Keling. Desa Lingsar sendiri memiliki 4 buah masjid. Namun yang kerap kali dipakai warga untuk melaksanakan Sholat Jumat secara bergiliran berada di Masjid Lingsar Timur dan Lingsar Barat.
“Sesuai himbauan pemerintah di tengah bencana gempa yang diperidiksi masih terjadi dan guna menghindari jathnya korban, kita dihimbau untuk sementara tetap berada di luar rumah atau menghindari berada dalam bangunan karena mengancam jiwa,” kata Suriadin warga Lingsar yang juga masih trauma dengan bencana gempa ini.
Dari catatan KIM lainnya juga menyebutkan, masyarakat untuk sementara menempati tenda-tenda pengungsian di lapangan terbuka atau di tempat-tempat yang agak lapang. Pemasangan tenda pengungsian dilakukan sendiri oleh warga secara swadaya. “Kami berharap musibah gempa ini akan cepat berakhir agar aktivitas sehari-hari bisa kembali normal,” harap Suriadin. (Her/KIM Lingsar Beraksi)

print