Tingkat Konsumsi Ikan di Lobar Lampaui NTB dan FAO

Gerung, Kominfo – Indonesia merupakan Negara kepulauan yang mempunyak potensi perikanan 6,2 juta ton/tahun. Sayangnya tingkat konsumsi ikan masih rendah disbanding dengan Negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat yang tingkat konsumsi ikannya sudah mencapai di atas rata-rata 100 kg/kapita/tahun. Indonesia sendiri rata-rata konsumsi ikannya baru mencapai 43,2 kg/kapita/tahun. Sementara di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) tercatat dalam kurun waktu 2017 tingkat konsumsi ikan  mencapai 36,99kg/kapita/tahun.  Namun dibandingkan dengan konsumsi ikan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang mencapi 32,3kg/kapita/tahun Lobar masih lebih tinggi, bahkan jauh melampaui capaian konsumsi ikan di Negara-negara yang bernaung di bawah PBB (FAO).

Demikian dikatakan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Barat H. Subandi pada sambutannya pada rapat teknis Forum Gemar Makan Ikan (Forikan) Lombok Barat di aula Dinas Kelautan dan Perikanan Lombok Barat – Gerung, Jumat (14/12/2018).

Subandi mengaku tingkat konsumsi ikan di Lobar dari tahun ke tahun terus meningkat. Dalam tahun 2017 saja tercatat tingkat konsumsi ikan di Lobar mencapai 36,99kg/kapita/tahun.

“Dibanding dengan rata-rata provinsi yang tingkat konnsumsi ikannya masih berada angka 32,3 kg/kapita/tahun, Lombok Barat sudah melampaui di atas capaian provinsi NTB. Demikian pula tingkat konsumsi ikan di Lombok Barat masih jauh lebih tinggi dari rata-rata konsumsi ikan pada lembaga yang bernaung dibawah PBB Food Agricultura Organization(FAO) mencapai 32,3 kg/kapita/tahun,” katanya.

Pada rapat teknis Forikan Lobar itu Subandi merekomendasikan bahwa ingkat konsumsi ikan di Lobar sudah membaik yang dibuktikan dengan tingkat konsumsi melebihi angka rata-rata Provinsi dan FAO.

Subandi berharap ke depannya tingkat konsumsi ikan di Lombok Barat akan lebih meningkat . Hal ini didukung oleh potensi perikanan laut dan budidaya perikanan darat di Lombok Barat sangat memungkinkan.

“Kita ingin ke depan nantinya tingkat konsumsi ikan di Lombok Barat minimal 40 kg/kapita/tahun. Strateginya selain sosialisasi secara terus-menerus dilakukan kepada masyarakat, juga semakin memperkuat basis kepengurusan Forikan ini hingga ke tingkat desa. Jadi tidak sebatas tingkat kecamatan dan Kabupaten saja,” kata Subandi.

Subandi juga akan lebih mendorong Forikan di tingkat kecamatan, desa dan kelompok-kelompok kuliner berbahan ikan untuk melakukan inovasi olahan kuliner berbahan ikan yang lebih variatif sehingga menarik perhatian masyarakagt terutama anak-anak yang dalam masa pertumbuhannya.

“Jadi kita ke depan akan lebih memacu masyarakat terutama ibu-ibu melalui PKK desa untuk membuat olahan makanan serba ikan seperti bakso ikan, stick ikan, kaki naga udang, ekado ikan atau bakso ikan tongkol. Atau trasi ikan yang sudah kita miliki di Lombok Barat ini dan sudah terbentuk kelompoknya. Jadi kita kemas sedemikian rupa agar dari lingkungan keluarga tertarik untuk mengkonsumsi ikan yang diketahui banyak mengandung zat bergizi untuk kesehatan dan kecerdasan anak,” kata Subandi.

Menurut Subandi ke depan pihaknya selain terus mendorong garakan gemar makan ikan di masyarakat juga pihaknya akan tetap memberdayakan kelompok-kelompok pembudidaya ikan di Lombok Barat. Hal ini seiring dengan permintaan produksi ikan asal Lombok Barat dari DKI Jakarta.

“Bahkan DKI Jakarta menawarkan kerjasama dengan Pemda Lombok Barat untuk agar ikan dari Lobar bisa dikirim ke Jakarta,” jelas Subandi.

Hanya saja Subandi mengkhawatirkan jika ketersediaan ikan di Lombok Barat tidak mencukupi untuk konsumsi lokal, jika nantinya DKI akan meminta ikan secara rutin dari Lombok Barat. “Karenanya kita akan membentuk lembaga dulu nantinya yang akan mengkaji  apakah nanti bisa penuhi permintaan itu atau tidak. Ini  masih butuh proses,” kata Subandi. Kominfo/her/rasidibragi

print