TRADISI MEMBACA LONTAR MASIH LESTARI DI TENGAH MASYARAKAT DESA KEBON AYU

Gerung, Kim Lintas Desa Gerung-Islam Suku Sasak telah mengenal tradisi Bekayat (membaca hikayat) sejak kerajaan Hindhu-Budha berkuasa sampai saat inipun tradisi ini masih lestari ditengah masyarakat.

Tradisi membaca hikayat dengan istilah bekayat yang secara bahasa berarti membaca dan berkisah. Selain itu juga sebagian warga menyebutnya dengan memaca.

Acara bekayat merupakan tradisi membaca kitab-kitab kuno berbahasa melayu diatas daun lontar atau kertas biasa pada acara-acara tertentu. Misalnya pada perayaan maulid nabi, tradisi sunatan, ngurisan, perkawinan hingga kematian.

Demikian yang disampaikan salah seorang pemaca (Penembang), Amaq Dah seusai melantunkan hikayatnya, Sabtu (27/3/2021)

Ia menuturkan “tradisi bekayat ini sejak lama dilakukan oleh masyarakat kita, seperti pada perayaan maulid, isroq miqraj, sunatan, perkawinan dan pada acara selamatan kematian” ujarnya saat mengahdiri undangan salah seorang warga di Dusun Karang Kesuma Desa Kebon Ayu, Kecamatan Gerung, kepada wartawan Kominfo Lobar, .

Di Lombok Barat sendiri, naskah sastra yang ditulis di atas daun lontar ini biasa disebut Takepan. Naskah yang kebanyakan menggunakan Bahasa Jawa Kuno, Bahasa Sasak, dan Bahasa Sansekerta tersebut merupakan simbol keberagaman budaya yang berpadu menjadi satu dan kaya akan makna.

Ia menjelaskan, dalam pembacaan pustaka kuno yang diperkirakan berumur ribuan tahun ini dimainkan oleh empat orang dengan mengenakan pakaian adat Suku Sasak atau mengenakan pakaian muslim adat Sasak, masing-masing disebut pemaca (penembang), piteges (penerjemah), penyarub (penyambung), dan pemboa (pendengar) yang bercerita tentang perjalanan spiritual nabi, termasuk pula pesan-pesan kehidupan tentang bagaimana seharusnya manusia hidup bersama manusia lainnya.

Pelaksanaan bekayat dilakukan sejak malam hingga menjelang subuh dan tradisi ini sudah ada sejak kerajaan Hindhu berkuasa bahkan dahulunya tradisi ini dilakukan sebagai media dakwah penyebaran islam.

Dikatakan Amaq Dah, beberapa kitab yang biasanya dibaca adalah Hikayat Nur, Yatim Mustafa dan Badaruzzaman untuk acara ngurisan, Maulidan sunatan atau perkawinan.

Sedangkan Kitab Kifayatul Muhtaj dibaca saat Perayaan Isra’ Mi’raj (kisah naiknya Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsho ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah Sholat).

Kitab Qurtubi Kasyful Gaibiyyah yang isinya seputar hakikat kematian serta bagaimana manusia seharusnya mati.

Sebagai ciri khas tradisi ini, pembaca hikayat dituntut menguasai teknik lantunan dan intonasi yang mendayu-dayu.

Bekayat sebagian dari tradisi dan adat budaya, bekayat juga mengharuskan adanya kemalik beras kuning, air bunga, benang warna hitam dan putih yang ditaruh diatas wadah.

“maknanya, sebersih dan sesuci apapun manusia, pasti terdapat noda dan kesalahan dalam diri yang harus dibersihkan dengan mendekatkan diri kepada Tuhan” jelas Amaq Dah.

Ia juga menyebut, tradisi bekayat (membaca hikayat) saat ini perlu diperkenalkan kepada generasi masa kini. Jika tidak, tradisi ini dikhawatirkan akan punah dimakan zaman.

“Membaca hikayat ini dimaksudkan untuk memperkenalkan dan menggugah pengetahuan generasi muda tentang warisan budaya Suku Sasak,”tuturnya. (Diskominfotik/KIM Lintas Desa Gerung/Angge)

print