Tradisi Nyalakan Dile Jojor dan Obor Sambut Lailatul Qadar di Lombok Barat

Batulayar-DIskominfotik. Tinggal beberapa hari lagi, bulan Ramadan akan berakhir. Di lima hari terakhir bulan Ramadan ini, umat muslim di Lombok Barat khususnya sibuk merayakan tradisi Maleman.

Tradisi maleman ini dimulai sejak tanggal 21 sampai 30 Ramadan. Tradisi ini dimeriahkan dengan pembakaran lampu jojor dan menyalakan obor. Bagi warga, Dile (lampu) jojor adalah sebuah lampu tradisional yang dibuat dari minyak buah pohon jamplong  atau jarak yang dicampur dengan kapas. Masyarakat Lombok sering menyalakan lampu ini untuk menyambut malam Lailatul Qadar.

Seperti perayaan Maleman Selae (malam 25) yang diadakan Warga Dusun Sandik Bawak Desa Sandik. Tiap malam ke 25 warga setempat wajib menggelar tradisi meleman.

“Tradisi maleman ini menurut orang tua kami bertepatan dengan malam turunnya Al-Qur’an,” jelas Ari Rahman.

Tradisi Maleman juga diadakan Warga Dusun Sandik Atas, Desa Sandik Kecamatan Batulayar Lombok Barat.

Kita nyalakan ‘dile jojor’, sejenis obor kecil yang terbuat dari bahan buah jamplung/jarak yang ditumbuk hingga keluar minyaknya kemudian dicampurkan kapas dan digulungkan pada batang bambu yang berukuran anatara 10 – 15 Cm dan dibakar. “Oleh warga kita, dan khususnya masyarakat Lombok Barat tradisi ini sering disebut dengan tradisi maleman,” ungkap Nova salah seorang warga Sandik saat menyalakan Dile Jojor, Selasa (19/5/2020).

Dia menjelaskan, biarpun di tengah mewabahnya pendemi corona atau covid-19 ini, warga masyarakat tetap antusias dengan menyelenggarakan tradisi maleman yang telah dilakukan sejak jaman dulu ini.

Kepala Dusun Sandik Bawak, Kahirul, menjelaskan bahwa maleman atau dile jojor ini dilakukan setiap malam ganjil di sisa 10 malam terakhir bulan ramadan yakni tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 ramadan.

Tradisi dile jojor diawali dengan membawa dulang berisi nasi dan lauk pauk ke masjid untuk roah dan berbuka puasa bersama tokoh agama dan masyarakat. 

Tetapi dengan adanya penyebaran wabah covid-19 ini di masyarakat, sehingga dilakukan di rumah masing-masing.

“Ini adalah cara masyarakat kita dahulu sampai sekarang menyambut malam Lailatul Qadar,” jelasnya.

Dia menuturkan, bahwa dile jojor dinyalakan setelah ibadah shalat magrib. Dusun yang semula gelap ini menjadi terang terkena sinar dari nyala api dile jojor. Pria, wanita, dewasa dan anak-anak di kampung ini meletakkan dile jojor di setiap sudut rumah dan berkeliling menyalakan obor di depan rumah-rumah warga.

Hamdi, menambahkan alasan dinyalakan dile jojor adalah sebagai penerang orang dulu yang akan mengantarkan zakat fitrah, maklum dahulu tidak seperti sekarang yang banyak diterangi oleh listrik.

“Kenapa orang dulu menyalakan dile jojor, sebagai penerang jalan orang yang akan pergi mengantarkan zakat fitrah, dulu kalau belum dinyalakan dile jojor ndak ada yang mau pergi ngantar zakat fitrahnya,” katanya. Diskominfotik/Her

print