TRADISI PEDAK API DALAM BUDAYA SUKU SASAK

Narmada-KIM. Tradisi pemberian nama pada anak yang baru dilahirkan memang sudah menjadi tradisi turun temurun dalam budaya orang sasak, anak yang baru dilahirkan tidak langsung diberikan nama tetapi harus menunggu waktu tujuh hari baru diberikan nama.

Menurut para tetua bahwa menunggu waktu tujuh hari itu untuk mengeringkan tali pusar yang ada pada bayi yang baru dilahirkan dan disanalah bayi tersebut diberikan nama oleh orang tuanya. Jika dikorelasikan dengan ajaran Fiqih Islam maka umur tujuh hari anak itu lahir baru boleh di Aqiqahkan dengan menyembelih seekor kambing.(red)

Pagi rabu 4/10 menjadi hari pertama dipanggil Nurridwan seorang bayi mungil umur tujuh hari, lahir dari pasangan Agustina dan saharudin menikah setahun yang lalu. Keluarga ini meluapkan kesyukurannya kepada yang maha menciptakan atas lahir putra pertamanya. Keluarga ini mengadakan Roah (zikir dan doa),yang mana roah ini orang sasak biasa menyebut dengan Roah Pedak Api.

Pedak Api dalam bahasa sasak artinya mematikan api. Sebab dinakan demikian itu Karena tradisi tetua waktu lampau membuat api kemudian memutarkan bayi pada api tersebut tiga kali sembari berdoa kepada ALLAH SWT semoga menjadi anak soleh/soleha dalam kehidupannya, kemudian api tersebut dipadamkan dengan menuangkan air, Inilah musabab dinamakan Pedak Api.

Tidak ada maksud lain dari menghidupkan api dan mengitari bayi, hanya untuk menghangatkan badannya sejenak dan mengeringkan tali pusar yang akan dipotong. Mustar/Kim Mekar Sari

print