Waspadai Penularan AIDS/HIV di Lombok Barat

Gerung-KIM. Fenomena meningkatnya kasus seks bebas berakibat rentannya penyakit HIV-AIDS telah banyak khususnya di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) yang selama ini dikenal sebagai penyumbang Pendapatan Asli daerah (PAD) dari sektor pariwisata. Merebaknya kasus HIV/AIDS tidak hanya menimpa kelompok dengan resiko tinggi. Namun kasus yang satu ini juga telah mewabah hingga Ibu Rumah Tangga (IRT), hingga balita.

Karena itu untuk mencegah, mengantisipasi dampak besar dan meluas yang ditimbulkan oleh penyakit ini, Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Lombok Barat (Lobar) mencari solusinya dengan menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Pencegahan Penanggulangan /AIDS Kabupaten Lombok Barat, Rabu (10/10) di Aula Dinas Kesehatan Lombok Barat, Gerung.

Rakor yang dihadiri Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid, Ketua Komisi IV DPRD Lobar Munawir Haris, Kepala Dinas Kesehatan Rahman Sahnan Putra, KPA Provinsi NTB, Kantor Kesehatan Pelabuhan Lembar, LSM  dan para Steak holder terkait tersebut bertujuan mencari formulasi yang tepat melalui koordionasi lintas sektoral untuk mencegah paling tidak meminimalisir munculnya kasus HIV/AIDS ini termasuk upaya penanggulangannya yang didahului dengan upaya preventif.

Bupati Lombok Barat H. Fauzan Khalid selaku Ketua KPA Lombok Barat mengakui, meluasnya segmentasi pada kelompok resiko rendah seperti Ibu Rumah Tangga dan Balita tentu saja menjadikan semua pihak pantas khawatir. Pasalnya institusi ini dianggap sebagai pertaruhan dan benteng terakhir dalam upaya mencegah meluasnya kasus HIV AIDS di Kabupaten Lobar.

Kasus HIV AIDS yang digambarkan sebagai fenomena gunung es ini di mana perkembangannya semakin membesar juga diakui orang nomor satu di jajaran Pemda Lobar ini. “Sekalipun perkembangan kasus di Lobar tidak terlalu signifikan, akan tetapi upaya pencegahan dan penanggulangan harus semakin dinamis,” terangnya serius.

Keresahan Bupati dua periode ini juga setidaknya masih mengganggu pikirannya. Masalahnya merebaknya kelompok Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) yang telah berani menampakkan keberadaaanya secara terang – terangan dan tanpa malu – malu. Bila ditelusuri secara medis, kelompok ini merupakan salah satu pemicu kasus HIV AIDS yang angkanya juga cukup banyak.

“Karena itu saya minta agar semua pihak bersama – sama mensosialisasikan program dengan cara memperkuat rumah tangga namun sekolah dengan tidak mendiskriminasi para pengidap HIV AIDS,” ingatnya.

Sekretaris KPA Lombok Barat, H. Junaidi, SH menyatakan, uapaya yang dilakukan pihaknya selama ini cukup maksimal dalam hal penyakit berbahaya dan belum diketahui pasti obatnya ini. Kebijakan awal yakni dengan menerbitkan Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2016 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV AIDS sebagai upaya menahan laju pertumbuhan kasus.

Pensiunan pejabat Pemda Lombok Barat ini menambahkan, dari data kumulatif kasus HIV AIDS Kabupaten/Kota se Provinsi NTB dari Tahun 1992 sampai Bulan Mei 2018, Kabupaten Lobar berada pada urutan ke -3 di bawah Kota Mataram dan Lombok Timur. Jumlah penderita di Lobar untuk HIV hingga saat ini sebanyak 126 orang dan penderita AIDS sebanyak 114 orang.

Data yang sudah tereverifikasi ini, KPA Lobar melakukan Rakor dan merumuskan kebijakan, strategi, dan langkah – langkah melalui program nyata dalam rangka pencegahan dan penanggulangan HIV AIDS. Tujuan program sendiri untuk menurunkan jumlah kasus baru HIV AIDS, menurunkan angka kematian dan menurunkan stigma dan diskriminasi.

Terkait strategi untuk itu, Junaidi bersama tim sudah melakukannnya dengan menggalakkan program STOPyakni Suluh,Temukan/Tes HIV, Obati, dan Pertahankan pengobatan. (her/Budi D/KIM Gerbang Gerung)

print